Thu. Aug 13th, 2026

Siklus-Indonesia.id — Kabar duka datang dari Desa Hulawa, Kecamatan Buntulia, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo. Pada Rabu (12/8/2026) sore, bencana longsor tiba-tiba melanda kawasan pertambangan emas tanpa izin (PETI) di wilayah tersebut. Lima orang penambang tewas tertimbun tanah, sementara satu orang lainnya berhasil diselamatkan dalam keadaan selamat. Sebuah peristiwa tragis yang kembali mengingatkan kita betapa mahalnya harga yang harus dibayar demi mengais rezeki secara liar di tengah bukit yang tak memiliki jaminan keamanan.

Peristiwa berawal saat aktivitas penambangan sedang berlangsung di lokasi. Tanpa peringatan sedikit pun, tanah pada tebing di kawasan itu tiba-tiba mengalami pergeseran dan meluncur menjadi longsoran besar. Tumpukan tanah dan bebatuan itu langsung menimpa para pekerja yang sedang beraktivitas di bawahnya. Mereka tak sempat berlari, tak sempat menyelamatkan diri. Dalam sekejap, enam nyawa itu tertimbun di bawah tumpukan tanah yang tebal dan berat.

Lokasi tambang yang berada di daerah terpencil, jauh dari pemukiman warga, menjadi dinding penghalang pertama bagi pertolongan. Medan yang terjal dan sulit dilalui kendaraan membuat tim SAR gabungan membutuhkan waktu lebih lama untuk menjangkau lokasi. Di tengah keterbatasan itu, tangan-tangan warga menjadi garda terdepan yang berusaha menggali dengan peralatan seadanya, berharap masih ada harapan menyelamatkan nyawa.

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Polda Gorontalo, Kombes Pol Marupa Sagala, membenarkan peristiwa tersebut. Pihaknya bersama unsur terkait segera turun ke lokasi guna membantu proses evakuasi yang berlangsung sulit.

“Dari peristiwa itu, personel kami bersama warga melakukan pertolongan. Diduga ada enam orang yang berada di lokasi saat kejadian. Lima orang ditemukan meninggal dunia, sedangkan satu orang selamat dan telah dirujuk ke rumah sakit,” ungkapnya pada Kamis (13/8/2026).

Hingga berita ini diturunkan, aparat kepolisian bersama tim terkait masih tetap bersiaga dan terus menyisir seluruh area longsor. Pemeriksaan identitas kelima korban yang meninggal dunia serta pencarian menyeluruh terus dilakukan guna memastikan tidak ada lagi penambang lain yang tertimbun material tanah.

Peristiwa di Pohuwato ini bukanlah yang pertama. Selama bertahun-tahun, serangkaian bencana serupa terus terjadi di berbagai pelosok negeri. Bukit yang digali tanpa perhitungan teknis, tebing yang dikeruk hingga tak lagi mampu menahan beban tanah, dan aktivitas yang berjalan tanpa pengawasan serta standar keamanan sedikit pun — semuanya berujung pada satu kesudahan yang sama: air mata keluarga yang ditinggalkan.

Tambang emas tanpa izin memang menjanjikan kilau harapan bagi mereka yang menderita kesulitan hidup. Namun di balik kilau itu tersembunyi bahaya yang tak kasat mata. Tidak ada pengujian kelayakan lokasi. Tidak ada pengamanan tebing. Tidak ada jaminan bahwa tanah tempat mereka berdiri tidak akan meluncur jatuh sewaktu-waktu. Ketika longsor datang, tidak ada yang bisa dipertanggungjawabkan, tidak ada yang bisa diganti. Yang tersisa hanyalah tanah merah yang menjadi makam, dan duka yang mendalam bagi keluarga yang menunggu di rumah.

Sudah saatnya peristiwa ini menjadi pelajaran bagi semua pihak — baik pemerintah daerah maupun aparat penegak hukum. Penindakan terhadap PETI tidak boleh hanya sekadar memindahkan alat berat atau menyita bahan bakar. Harus ada pendekatan yang menyeluruh: menutup akses ke lokasi rawan, memberikan alternatif mata pencaharian kepada warga, serta menindak tegas mereka yang membiayai dan melindungi aktivitas ilegal tersebut.

Karena tanah yang runtuh di Desa Hulawa kemarin bukan sekadar tanah. Ia adalah peringatan keras dari alam. Bahwa menggali bumi tanpa izin, tanpa aturan, tanpa rasa tanggung jawab, pada akhirnya akan menimpa diri sendiri. Dan kali ini, harganya dibayar dengan lima nyawa yang tak akan kembali pulang. Semoga duka ini menjadi pengingat, agar tak ada lagi nyawa yang harus dikorbankan demi keuntungan sesaat di bukit yang rapuh. (Red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *